Hendriyadi Rustamar
Rabu, 14 April 2010
Melawan Hegemoni ITB
KAMPUS ITS - ITS ONLINE - Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?
Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.
Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.
Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.
PERCAYA DIRI
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.
Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.
Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.
Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.
Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”
Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.
Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.
APRESIASI
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.
Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.
Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.
Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.
Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.
Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.
Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.
Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.
Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.
POLA PIKIR TERBUKA
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.
Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.
Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.
Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.
Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.
Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.
ALUMNI
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.
Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.
Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.
Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.
Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.
Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.
”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu...” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.
Copas dari artikel:
Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan FTK ITS Angkatan 2006
http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=6781
Sabtu, 01 Agustus 2009
ITB-UGM Berhasil Mengumpulkan Nilai Rata-Rata Tertinggi Calon Mahasiswa di Indonesia Tahun Ini Hasil Seleksi Masuk PTN
Nilai rata-rata tertinggi calon mahasiswa tahun ini juga dibagi berdasar provinsi. Untuk kelompok IPA, yang memiliki nilai rata-rata paling tinggi adalah Provinsi DIY. Setelah itu, dibayangi Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sedangkan untuk IPS, peraih nilai rata-rata tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta. Kemudian, berturut-turut adalah DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
SNM PTN tahun ini diikuti 57 PTN yang terbagi dalam empat wilayah. Wilayah I terdiri atas DKI Jakarta, Jabar, Banten, dan Kalbar. Wilayah II meliputi Jateng dan DIY. Wilayah III adalah Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan wilayah IV meliputi Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Menurut Ketua SNM PTN Haris Supratno, tahun ini calon mahasiswa yang diterima 92.511 dari daya tampung yang tersedia 100.235. Ini berarti, 7.724 peserta tidak lulus. Dengan demikian, 7,7 persen daya tampung PTN kosong.
Dikatakan, daya tampung yang terpenuhi ada 15 PTN, sedangkan yang tidak terpenuhi 42 PTN. Beberapa program studi yang tidak terpenuhi, antara lain, pertanian, peternakan, teknologi hasil pertanian dan peternakan, serta ilmu perairan. ''Mirip tahun-tahun sebelumnya, peminat jurusan pertanian dan peternakan masih sedikit,'' terang rektor Unesa itu kemarin di Hotel Acacia.
Haris menyebut, ada lima universitas yang daya tampungnya banyak yang kosong. Yaitu, Universitas Khairun Ternate, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Papua, Universitas Negeri Manado, dan Universitas Lambung Mangkurat. Puluhan program studi (prodi) kelima universitas itu tidak terisi penuh.
Dari tahun ke tahun, kata Haris, panitia berupaya agar jurusan yang tidak diminati dapat dilirik calon mahasiswa. Haris menilai, sejatinya, tahun ini sudah ada pergeseran untuk beberapa jurusan. Contohnya, olahraga dan seni. Jika tahun-tahun sebelumnya kedua jurusan tersebut kurang diminati layaknya pertanian dan peternakan, tahun ini sudah mulai dilirik.
Hal itu, menurut Haris, seiring dengan adanya UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Demikian pula, peminat jurusan pendidikan meningkat, terutama PGSD. Dari tahun ke tahun, jurusan kedokteran paling menarik minat calon mahasiswa. Sedangkan untuk kelompok IPS, jurusan yang paling favorit adalah ekonomi (akuntansi).
Haris menambahkan, secara resmi, pengumuman SNM PTN dilakukan melalui dua jalur. Yang pertama via online melalui website resmi SNM PTN, yaitu www.snmptn.ac.id, yang bisa diakses tengah malam nanti pukul 00.00. Selain itu, bisa diakses juga website UI, ITS, ITB, dan Undip.
Panitia juga mengumumkan melalui print-out yang ditempelkan di PT masing-masing. Selain itu, panitia lokal (panlok) diberi kewenangan bekerja sama dengan media nasional maupun lokal untuk mengumumkan hasil kelulusan SNM PTN, termasuk Jawa Pos yang akan mengumumkannya pada edisi Sabtu, 1 Agustus.
Secara terpisah, Koordinator Pengelolaan Data dan Proses Penilaian SNM PTN Prof Priyo Suprobo mengatakan, validasi data dan skoring nilai sudah selesai. Yaitu, menggunakan metode presentil. Suatu metode di mana nilai peserta pada setiap mata ujian dikonversi menjadi ranking peserta pada mata ujian tersebut dengan rentang nilai 0,0 hingga 99,99.
''Dengan sistem ini, siswa dituntut memiliki kemampuan rata-rata. Sebab, siswa harus menjawab secara merata semua bidang yang diujikan, tidak terfokus pada satu mata ujian yang disenangi saja,'' terang rektor ITS itu.
Priyo menjelaskan, ITS memiliki sistem ICT yang memproses nilai ujian secara valid. Dengan penggunaan sistem tersebut, diketahui bahwa jumlah kecurangan mencapai 3.713. Kendati cukup banyak, jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. ''Tahun lalu, jumlah kecurangan sekitar 5.000. Kita mencoba terus memperbaiki sistem yang ada untuk mencegah kecurangan,'' ujarnya.
Inilah hasil Nilai Rata-rata Tertinggi 5 Besar PTN sbb:
Kelompok IPA
1. ITB, Bandung (92,54)
2. UGM, Yogyakarta (88,88)
3. UI, Depok (87,11)
4. ITS, Surabaya (83,55)
5. Unair, Surabaya (83,36)
Kelompok IPS
1. UGM, Yogyakarta (88,42)
2. UI, Depok (85,97)
3. Unair, Surabaya (83,89)
4. UNS, Solo (79,89)
5. Unibraw, Malang (78,35)
Sementara itu, nilai tertinggi calon mahasiswa yang diterima di PTN kelompok IPA adalah
1. UI, Depok (99,86)
2. ITB, Bandung (99,46)
3. ITS, Surabaya (99,06)
4. UNS, Solo (99,05)
5. UGM, Yogyakarta (98,91)
Untuk kelompok IPS adalah
1. UI, Depok (98,30)
2. UGM, Yogyakarta (97,86)
3. UNS, Solo (97,46)
4. Unpad, Bandung (97,35)
5. Unair, Surabaya (96,72)
Keketatan persaingan nilai di PTN untuk kelompok IPA terjadi di USU, UGM, dan Unimed. Sementara untuk kelompok IPS di UGM, USU, dan Unri.
Sumber: http://www.jawapos.co.id/
http://www.surya.co.id/2009/07/31/92511-calon-mahasiswa-lolos-snmptn-2009.html
http://politikana.com/baca/2009/07/31/itb-dan-ugm-tetap-nomor-1-di-snmptn-2009.html
Rabu, 22 Juli 2009
Keeksistensian Sepakbola tidak akan pernah lenyap
Sejak sepakbola modern diperkenalkan di Inggris pertengahan abad ke-19, telah banyak kejadian fenomenal yang menjadi saksi nyata baik suka dan duka di belantara olahraga terpopuler di muka bumi ini. Hal tersebut tentu saja tidak dipisahkan dari peran vital aktor lapangan hijau dari masa ke masa. Hingga saat ini, telah 15 dekade sejak keeksistensian sepakbola ini, banyak pemain top yang lahir. Top di sini dalam arti mereka yang mempunyai skill yahud, prestasi melimpah, contoh teladan baik di dalam maupun di luar lapangan dan tentu saja berandil besar membawa mazhab baru bagi permainan ini, misalnya Kick and Rush dari Inggris, Jogo Bonito ciri khas Brazil, Total Football ala Belanda, Catenaccio Italia, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Kita mulai pada era 1930-an. Ketika itu, lahir sebuah kompetisi paling bersejarah di dunia. Apalagi kalau bukan Piala Dunia yang pertama kali diadakan di
Selanjutnya, di era 1940-an. Pada era ini merupakan era dimana meletusnya Perang Dunia II dan keadaan keamanan dunia masih labil. Hal ini otomatis berdampak langsung terhadap penyelenggaraan sepakbola di seluruh dunia.
Dan pada era 1950-an kompetisi sepakbola dunia kembali bergulir. Liga dimasing-masing negara, Piala Dunia, bahkan kompetisi yang mempertemukan para jawara juara antar liga lahir di era ini. Apalagi kalau bukan Liga Champions (sebelum tahun 1992 bernama Piala Champions-red). Kompetisi ini dipercaya hingga kini sebagai kompetisi yang amat kompetitif, bergengsi, dan prestisius yang mempertemukan juara di liga masing-masing negara dan klub peringkat teratas di setiap kompetisi utama liga suatu negara di akhir musim. Adapun klub-klub langganan juara di kompetisi ini diantaranya Real
Lanjut pada era 1960-an.
Beranjak dari era 1960-an kita menuju ke era 1970-an. Peta kekuatan sepakbola dunia pada era ini bergeser dari Amerika Latin ke Benua Eropa, tepatnya Jerman Barat dan Belanda. Mengapa saya memilih 2 negara ini sebagai simbol dekade 1970-an? Tentu saja karena mengkilap kedua Negara ini yang tidak hanya di level Negara tetapi juga di level klub. Jerman Barat dan Belanda adalah dua kekuatan menakutkan di dunia saat itu. Jerman Barat, yang terkenal dengan sebutan Tim Panser atau Tim Diesel, merupakan tim yang sangat disegani lawan ketika itu karena mempunyai mentality dan semangat pantang menyerah. Dengan
Oke…selanjutnya di dasawarsa 1980-an. Pada era ini, ada seseorang pesepakbola berpostur tubuh pendek kira-kira tingginya 168 cm dan gempal.Tetapi, dibalik semua itu, terdapat sebuah bakat alam yang amat luar biasa. Siapakah yang dimaksud? Dia adalah sang legendaris Tim Tango,
Lanjut ke era 1990-an dimana persaingan sepakbola semakin kompetitif saja. Terdapat peristiwa penting di era ini diantaranya pertama kalinya diperkenalkan Penghargaan Pemain Terbaik di dunia versi FIFA dan bergantinya nama Piala Champions menjadi Liga Champions. Pada penghargaan Pemain Terbaik Dunia versi FIFA ini, pemain berkebangsaan Jerman, Lothar Matthaeus menjadi orang pertama yang meraihnya yaitu pada medio 1991. Pada zaman ini, banyak kejutan bermunculan ketika klub-klub antar beratah seperti Crvena Zvezda atau dikenal dengan nama Red Star Belgrade, Olympique Marseille, dan Borussia Dortmund mampu menjuarai Liga Champions pada dasawarsa ini tepatnya masing-masing pada tahun 1991, 1993, dan 1997. Pada era ini juga terjadi sebuah sejarah besar di Piala Champions dimana nama dan format kompetisi tersebut berubah pada tahun 1992. Piala Champions berubah menjadi nama UEFA Champions League dan pesertanya tidak harus dari juara kompetisi di liga suatu negara yang bersangkutan tetapi juga peringkat runner –up, tiga, dan empat di klasemen akhir pun di beberapa Liga terbaik Eropa seperti Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spanyol mampu mengirimkan wakilnya tersebut. Adapun peristiwa yang menarik pada era ini dimana adanya aturan baru dalam transfer pemain, yaitu aturan Bosman. Inti dari aturan Bosman adalah ketika seorang pemain yang terikat pada klub telah habis masa kontraknya, maka pemain tersebut bebas cabut dan bergabung dengan klub lain. Belakangan aturan ini direvisi dengan berbagai pertimbangan terkait pengembangan pemain muda. Namun esensi utama dari aturan Bosman adalah ketika pemain expired, maka ia free transfer.
Piala Dunia pada dekade ini, merupakan zaman kejayaan bagi
Sedangkan untuk kancah Piala Eropa merupakan milik
Banyak pemain yang sangat bersinar pada era ini. Trio Belanda yang memperkuat AC Milan, Class of 1992 dari Manchester United yang alumninya meliputi Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, dan David Beckham, Roberto Baggio, Luiz Ronaldo, Zinedine Zidane, dan masih banyak lagi. Trio Belanda yaitu Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijjkaard sebenarnya namanya sudah menjulang tinggi ketika mengantarkan Belanda juara Eropa pada tahun 1988. Namun, era 1990an ini menjadi sebuah penegasan kedigdayaan mereka dan melegenda bersama AC Milan yang ketika itu merupakan klub yang paling ditakuti di dunia. Sedangkan Class of 1992 benar-benar rising star yang tersukses di dunia. Bagaimana tidak? Mereka yang ketika itu berumur kurang dari 20 tahun mampu bersaing bersama bintang-bintang yang lebih senior daripada mereka untuk mengangkangi Liga Inggris. Liga Inggris pada masa ini jelas milik Manchester United meskipun sesekali diusik oleh Arsenal,
Dan terakhir kita membahas sepakbola di awal millennium ke-2 ini. Pada era tahun 200an, sepakbola tidak hanya menjadi olahraga terpopuler di jagat raya ini tetapi lebih dari itu, juga telah mengindustrialisasi. Banyak klub yang hobby menggelontorkan fulusnya demi memboyong pemain berlabel megabintang yang mereka inginkan. Misalnya saja Real Madrid,
Apakah era 2000an hanya kejadian itu sajakah yang patut disorot dimana klub telah berlomba-lomba ingin menjadi yang terbaik dengan cara instan menghamburkan banyak uang? Tentu tidak! Pada era ini, merupakan bagian dari sejarah terbesar bagi bangsa
Adapun kejutan lain pada turnamen 4 tahunan lainnya di Benua Eropa, yaitu Piala Eropa ketika Yunani secara mengejutkan menjadi kampiun setelah menghempaskan tuan rumah
Lalu, siapakah pemain terbaik di awal abad ke-21 ini? Saya sendiri bingung karena sangat banyak talenta terbaik pada era ini terlebih saya sendiri ikut menyaksikan meskipun di layar kaca. Skill yahud, teknik tinggi, dan berprestasi baik individu maupun bersama klub dan timnas rasanya dimiliki oleh Zinedine Zidane, Luiz Figo, Luiz Ronaldo, david Beckham, Ronaldinho, Messi, dan masih banyak lagi.
Namun, nama pertama yang disebutkan menurut saya Best of The Best. Pemain keturunan Arab-Aljazair ini sudah memiliki segalanya apa yang diidamkan insan sepakbola seluruh dunia. Prestasi individu, prestasi di klub bersama Juventus dan Real Madrid, dan prestasi bersama Timnas Perancis sudah dia dapatkan semua satu yang membuat karir Zizou, panggilan Zidane, sedikit cacat mungkin ulahnya akibat terpancing emosinya saat menanduk Marco Materazzi pada Final Piala Dunia 2006 melawan Italia di Berlin, Jerman. Wasit pun tanpa basa-basi menghadiahi kartu merah dan akhirnya Perancis takluk setelah dikalahkan Gli Azzurri lewat drama adu penalty 5-3. Namun, hal tersebut hanyalah noda kecil dalam perjalan emas karir seorang Zidane, sang maestro kulit bundar terbaik sepanjang masa. Tak ada yang dapat memungkirinya. Are you agree?