JAKARTA - ITB dan UGM berhasil mengumpulkan nilai rata-rata tertinggi calon mahasiswa di Indonesia tahun ini. Berdasar hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), ITB meraih nilai rata-rata tertinggi untuk kelompok IPA, yakni 92,54. Kemudian, disusul UGM 88,88, UI 87,11, ITS 83,55, dan Unair 83,36. Untuk kelompok IPS, nilai rata-rata tertinggi calon mahasiswa diraih UGM (88,42). UI menyusul dengan nilai rata-rata 85,97, Unair 83,89, UNS 79,89, dan Unibraw 78,35.
Nilai rata-rata tertinggi calon mahasiswa tahun ini juga dibagi berdasar provinsi. Untuk kelompok IPA, yang memiliki nilai rata-rata paling tinggi adalah Provinsi DIY. Setelah itu, dibayangi Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sedangkan untuk IPS, peraih nilai rata-rata tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta. Kemudian, berturut-turut adalah DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
SNM PTN tahun ini diikuti 57 PTN yang terbagi dalam empat wilayah. Wilayah I terdiri atas DKI Jakarta, Jabar, Banten, dan Kalbar. Wilayah II meliputi Jateng dan DIY. Wilayah III adalah Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan wilayah IV meliputi Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Menurut Ketua SNM PTN Haris Supratno, tahun ini calon mahasiswa yang diterima 92.511 dari daya tampung yang tersedia 100.235. Ini berarti, 7.724 peserta tidak lulus. Dengan demikian, 7,7 persen daya tampung PTN kosong.
Dikatakan, daya tampung yang terpenuhi ada 15 PTN, sedangkan yang tidak terpenuhi 42 PTN. Beberapa program studi yang tidak terpenuhi, antara lain, pertanian, peternakan, teknologi hasil pertanian dan peternakan, serta ilmu perairan. ''Mirip tahun-tahun sebelumnya, peminat jurusan pertanian dan peternakan masih sedikit,'' terang rektor Unesa itu kemarin di Hotel Acacia.
Haris menyebut, ada lima universitas yang daya tampungnya banyak yang kosong. Yaitu, Universitas Khairun Ternate, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Papua, Universitas Negeri Manado, dan Universitas Lambung Mangkurat. Puluhan program studi (prodi) kelima universitas itu tidak terisi penuh.
Dari tahun ke tahun, kata Haris, panitia berupaya agar jurusan yang tidak diminati dapat dilirik calon mahasiswa. Haris menilai, sejatinya, tahun ini sudah ada pergeseran untuk beberapa jurusan. Contohnya, olahraga dan seni. Jika tahun-tahun sebelumnya kedua jurusan tersebut kurang diminati layaknya pertanian dan peternakan, tahun ini sudah mulai dilirik.
Hal itu, menurut Haris, seiring dengan adanya UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Demikian pula, peminat jurusan pendidikan meningkat, terutama PGSD. Dari tahun ke tahun, jurusan kedokteran paling menarik minat calon mahasiswa. Sedangkan untuk kelompok IPS, jurusan yang paling favorit adalah ekonomi (akuntansi).
Haris menambahkan, secara resmi, pengumuman SNM PTN dilakukan melalui dua jalur. Yang pertama via online melalui website resmi SNM PTN, yaitu www.snmptn.ac.id, yang bisa diakses tengah malam nanti pukul 00.00. Selain itu, bisa diakses juga website UI, ITS, ITB, dan Undip.
Panitia juga mengumumkan melalui print-out yang ditempelkan di PT masing-masing. Selain itu, panitia lokal (panlok) diberi kewenangan bekerja sama dengan media nasional maupun lokal untuk mengumumkan hasil kelulusan SNM PTN, termasuk Jawa Pos yang akan mengumumkannya pada edisi Sabtu, 1 Agustus.
Secara terpisah, Koordinator Pengelolaan Data dan Proses Penilaian SNM PTN Prof Priyo Suprobo mengatakan, validasi data dan skoring nilai sudah selesai. Yaitu, menggunakan metode presentil. Suatu metode di mana nilai peserta pada setiap mata ujian dikonversi menjadi ranking peserta pada mata ujian tersebut dengan rentang nilai 0,0 hingga 99,99.
''Dengan sistem ini, siswa dituntut memiliki kemampuan rata-rata. Sebab, siswa harus menjawab secara merata semua bidang yang diujikan, tidak terfokus pada satu mata ujian yang disenangi saja,'' terang rektor ITS itu.
Priyo menjelaskan, ITS memiliki sistem ICT yang memproses nilai ujian secara valid. Dengan penggunaan sistem tersebut, diketahui bahwa jumlah kecurangan mencapai 3.713. Kendati cukup banyak, jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. ''Tahun lalu, jumlah kecurangan sekitar 5.000. Kita mencoba terus memperbaiki sistem yang ada untuk mencegah kecurangan,'' ujarnya.
Inilah hasil Nilai Rata-rata Tertinggi 5 Besar PTN sbb:
Sejak sepakbola modern diperkenalkan di Inggris pertengahan abad ke-19, telah banyak kejadian fenomenal yang menjadi saksi nyata baik suka dan duka di belantara olahraga terpopuler di muka bumi ini. Hal tersebut tentu saja tidak dipisahkan dari peran vital aktor lapangan hijau dari masa ke masa. Hingga saat ini, telah 15 dekade sejak keeksistensian sepakbola ini, banyak pemain top yang lahir. Top di sini dalam arti mereka yang mempunyaiskill yahud, prestasi melimpah, contoh teladan baik di dalam maupun di luar lapangan dan tentu saja berandil besar membawa mazhab baru bagi permainan ini, misalnya Kick and Rush dari Inggris, Jogo Bonito ciri khas Brazil, Total Football ala Belanda, Catenaccio Italia, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kita mulai pada era 1930-an. Ketika itu, lahir sebuah kompetisi paling bersejarah di dunia. Apalagi kalau bukan Piala Dunia yang pertama kali diadakan di Uruguay pada tahun 1930 dengan juara Uruguay. Piala Dunia disebut juga Piala Jules Rimet. Siapa itu Jules Rimet? Jules Rimet adalah seorang berkebangsaan Perancis yang menggagas pertama kali untuk diadakannya turnamen antar bangsa-bangsa se-dunia ini. Pada periode ini, terdapat pemain yang cukup menyita perhatian publik kala itu. Namun, mereka tidak berasal dari Uruguay yang dimana mereka sang Juara Piala Dunia pertama kali pada tahun 1930, tidak pula dari Argentina dan Brazil, dua raksasa Amerika Latin lainnya. Lantas, siapa? Mereka adalah Giuseppe Meazza dan Silvio Piola. Keduanya berasal dari Italia. Perlu diketahui, pada era ini merupakan salah satu zaman keemasan Tim Nasional Italia. Mereka mampu juara dunia di rumah sendiri ketika Piala Dunia tahun 1934 dan dengan luar biasa mampu mempertahankannya kembali di Piala Dunia edisi 4 tahun berikutnya di Perancis. Kita kembali tentang dua pemain yang terakhir disebutkan. Giuseppe Meazza adalah seorang legendaris yang pernah mengabdi untuk Inter Milan dan AC Milan. Dia sepertinya memang terlahir menjadi pemain yang benar-benar melegenda di duo klub asal kota mode ini. Ketika Italia digdaya di era 1934 dan 1938, Meazza menjabat sebagai kapten tim. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, Meazza hingga saati ini namanya diabadikan menjadi sebuah stadion termegah di Italia, Giuseppe Meazza atu dikenal juga dengan nama San Siro, yang dimana stadion ini merupakan homebase bagi duo Milano, AC Milan dan Inter Milan, 2 klub asal Kota Milan, Propinsi Lombardia, Italia bagian utara ini. Sivio Piola? Hmm…mungkin banyak football mania zaman sekarang yang asing terhadap nama yang satu ini. Tetapi, bagi barang siapa yang Football Knowledge sudah level tinggi seperti saya ini…He3…^^…nama ini tentulah tidak asing lagi. Silvio Piola adalah striker asal SS Lazio yang rekor mentereng dalam sejarah Sepakbola Italia. Apa rekornya? Pencetak gol terbanyak kompetisi se-Italia yang hingga saat ini belum terusik rekornya tersebut. Beuuhhhhh…! Nama-nama penyerang local maupun asing yang pernah merumput di ranah Italia yang tidak disangsikan ketajamannya seperti Paolo Rossi, Roberto Baggio, Filippo Inzaghi, Christian Vieri , Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Gabriel Batistuta, Hernan Crespo, dan Andriy Shevchenko belum mampu paling tidak mendekati rekor golnya.
Selanjutnya, di era 1940-an. Pada era ini merupakan era dimana meletusnya Perang Dunia II dan keadaan keamanan dunia masih labil. Hal ini otomatis berdampak langsung terhadap penyelenggaraan sepakbola di seluruh dunia.
Dan pada era 1950-an kompetisi sepakbola dunia kembali bergulir. Liga dimasing-masing negara, Piala Dunia, bahkan kompetisi yang mempertemukan para jawara juara antar liga lahir di era ini. Apalagi kalau bukan Liga Champions (sebelum tahun 1992 bernama Piala Champions-red). Kompetisi ini dipercaya hingga kini sebagai kompetisi yang amat kompetitif, bergengsi, dan prestisius yang mempertemukan juara di liga masing-masing negara dan klub peringkat teratas di setiap kompetisi utama liga suatu negara di akhir musim. Adapun klub-klub langganan juara di kompetisi ini diantaranya Real Madrid (9 kali kampiun hingga kini), Liverpool (5), Bayern Muenchen (4), Ajax Amsterdam (4), dan AC Milan (7). Klub terakhir yang disebut adalah klub favorite saya. He3…^^ Lantas, siapakah pemain terfenomenal pada dekade ini? Saya memilih Alfredo Di Stefano. Siapa itu Di Stefano? Alfredo Di Stefano adalah salah satu penggawa Real Madrid yang berandil besar dalam membawa El Real bergelimang prestasi saat itu. Yang luar biasa tentu saja membawa tim ibukota itu penta kampiun Piala Champions secara berturut-turut dari awal munculnya Liga Champions pada musim 1955/1956 hingga musim 1960/1961! Luar biasa bukan?Di Stefano bersama Ferenc Puskas (legenda asal Hungaria) dan Fernando Gento (kebanggaan local) membuat Real Madrid amat disegani se-antero Eropa ketika itu. Sayang daya magis seorang Di Stefano tidak tertular di level tim nasional, Argentina dan Spanyol. Perlu diketahui, sejatinya Di Stefano adalah Argentinian dan pernah Albiceleste, julukan timnas Argentina, sebelum dia berganti kewarganegaraan Spanyol dan membela Tim Matador.
Lanjut pada era 1960-an. Ada sebuah sejarah besar pada dasawarsa ini. What is it? Ya, tentu saja lahirnya kompetisi antar Negara se-Eropa yang bernama Piala Eropa. Piala Eropa disebut juga Piala Henry Delauney. Henry Delauney adalah frenchman yang menjadi pencetus diadakannya kompetisi antar negara di Benua Biru ini. Kompetisi ini dimulai pada tahun 1960. Ketika itu, Perancis dipercaya sebagai tuan rumah. Di final, duel negara komunis tersaji, Uni Soviet vs Yugoslavia, yang akhirnya dimenangkan oleh saudara tua Uni Soviet via adu penalti. Lalu, siapakah pemain yang paling menjadi pusat perhatian saat itu? Bukan dari bumi Eropa melainkan dari bumi Amerika Latin (Amerika Selatan) tepatnya di Brazil. Siapakah dia? Tentu saja, Pele! Nama ini tentu tidak asing lagi bagi orang awam tentang sepakbola sekalipun. Pele bernama asli Nelson Arantes de Nascimento sebenarnya mulai menghentak dunia dengan aksi-aksinya di lapangan hijau pada saat berusia masih 17 tahun. Ketika itu, statusnya masih rising star membela timnas Brazil pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Namun, dengan usia yang masih belia tersebut, Pele mampu mempersembahkan Piala Jules Rimet (nama lain Piala Dunia-red) untuk kali pertama bagi Tim Jogo Bonito. Kedigdayaan seorang Pele semakin menjadi-jadi di perhelatan Piala Dunia berikutnya di Chile pada tahun 1962. Dan, menjadikan Brazil sebagai Negara ke-2 dalam sejarah yang mampu juara dunia dua kali secara berturut-turut yang sebelumnya telah dilakukan oleh Italia. Sebenarnya, Pele berpeluang besar mebuat rekor bagi Seleccao Brasileira (sebutan lain Timnas Brazil-red) bersama dirinya untuk juara Piala Dunia tiga kali secara berturut-turut di tahun 1966 ketika Inggris dipercaya sebagai host dan pada akhirnya juara untuk pertama dan terakhir kalinya hingga kini setelah di partai puncak mengalahkan Jerman Barat secara kontroversial. Saat itu, dewi fortuna menjauh dari Brazil termasuk Pele. Hal ini salah satunya dikarenakan si Mutiara Hitam, julukan Pele, mengalami cedera di pertengahan turnamen dan akibatnya Brazil harus angkat koper lebih awal. Empat tahun berselang yaitu Piala Dunia 1970 di Meksiko Pele bersinar kembali. Padahal saat itu, Pele telah berusia kepala tiga. Namun, berkat jiwa kepemimpinannya dan pengalamannya, Brazil menjadi Negara terbanyak menjuarai Piala Dunia setelah menjuarai Piala Dunia di edisi ini. Turnamen tersebut merupakan turnamen internasional terakhir baginya.
Beranjak dari era 1960-an kita menuju ke era 1970-an. Peta kekuatan sepakbola dunia pada era ini bergeser dari Amerika Latin ke Benua Eropa, tepatnya Jerman Barat dan Belanda. Mengapa saya memilih 2 negara ini sebagai simbol dekade 1970-an? Tentu saja karena mengkilap kedua Negara ini yang tidak hanya di level Negara tetapi juga di level klub. Jerman Barat dan Belanda adalah dua kekuatan menakutkan di dunia saat itu. Jerman Barat, yang terkenal dengan sebutan Tim Panser atau Tim Diesel, merupakan tim yang sangat disegani lawan ketika itu karena mempunyai mentality dan semangat pantang menyerah. Dengan gayastayingpower-nya, setiap lawan yang bertemu Jerman Barat apabila sudah unggul tidak akan pernah aman meskipun pertandingan telah memasuki injury time. Beberapa negara telah merasakan hal tersebut dan contoh konkritnya ketika Jerman Barat menghempaskan perlawanan Belanda pada Final Piala Dunia 1974. Kala itu, pertandingannya sepertinya akan menjadi milik Belanda karena sepanjang pertandingan Tim Oranye, julukan Belanda, mendominasi permainan. Tetapi, berkat kesabaran, semangat pantang mengibarkan bendera putih sebelum peluit tanda akhir pertandingan berakhir, dan didukung permainan taktis ala Jerman yang mengutamakan kefektifan dan keefiesienan, Jerman Barat mampu meredam permainan Total Football ala Belanda. Sebenarnya, Jerman Barat pernah juara sebelum Piala Dunia ini yaitu pada Piala Dunia 1954 di Swiss. Namun, tak bias dipungkiri pada era inilah puncak prestasi negara yang pernah dipimpin diktator kejam, Adolf Hitler, ini. Hal ini dikarenakan tidak hanya juara Piala Dunia 1974 saja yang diraih tetapi juga Piala Eropa 1972. Beberapa klub asal Jerman Barat seperti Bayern Muenchen merupakan contoh tersukses dalam mengadopsi permainan ala Tim Diesel. Bagaimana dengan Belanda? Tentu saja, Belanda memegang peranan tidak kecil dalam sejarah sepakbola denag filosofi Total Football yang hingga kini tetap melegenda dan menjadi ciri khas permainan Belanda baik di level timnas maupun di level klub. Dalam total football tidak ada istilah bertahan dalam bermain. Bagi pengguna mazhab ini, menyerang adalah pertahanan yang terbaik. Beberapa klub yang sukses dalam menerapakan Total Football dalam strateginya diantaranya Ajax Amsterdam, Feyenoord, dan Barcelona. Hal ini dikarenakan ketiga klub ini amat kental peranan para Dutchman dalam mengukir prestasi baik di dalam maupun luar kompetisi lokal. Lalu, siapakah pemain terbaik pada dasawarsa ini? Hmmm….sepertinya kita layak mengedepankan nama Franz Beckenbauer dan Johan Cruijff. Franz Beckenbauer, Der Kaizer (Sang Kaisar, julukannya) adalah legenda hidup terbesar Jerman Barat. Banyak nama-nama besar dalam sejarah pesepakbolaan di negeri ini, seperti Sepp Meir, Uli Hoeness, Gerd Muller, Karl-Heinz Rummeniege, Juergen Klinssmann, Lothar Matthaeus, Olivier Bierhoff, Steffi Effenberg, Olivier Kahn, dan bintang Jerman sekarang Michael Ballack. Namun, Der Kaizer tetaplah yang terdepan. Seorang pemimpin yang tangguh, berkharismatik, prestasi yang mengkilap, dan perilaku di dalam dan di luar lapangan yang patut dijadikan contoh. Beckenbauer merupakan satu-satunya yang mampu memenangi Piala Dunia baik sebagai pemain pada tahun 1974 maupun sebagai pelatih pada tahun 1990. Di level klub, loyalitasnya terhadap Bayern Muenchen sangat tinggi. Dia memegang peranan vital dalam membawa FC Hollywood, julukan Muenchen, tiga kali berturut-turut dalam kurun waktu 1970-1980. Bagaimana dengan Johan Cruijff? Berbeda dengan Beckenbauer yang bermain sebagai libero dan cenderung membantu pertahanan, Cruijff merupakan pemain bertipe ofensif tulen. Posisinya jika bermain tidak jauh-jauh di barisan depan Tim Oranje, sebagai Penyerang Sayap, Second Striker, ataupun finisher. Belanda bersama dirinya merupakan satu-kesatuan yang saling melengkapi. Ibaratnya, jika digambarkan dalam satu tim orchestra, maka Cruijff adalah dirigennya. Namun, memang Belanda bersamanya tidak pernah menyicipinya gelar dunia sekalipun. Paling banter Runner-Up dua kali pada tahun 1974 dan 1978. Meskipun demikian, Belanda tetap diakui sebagai salah satu tim terbaik di dunia di zamannya. Sering kita dengar bahwa Belanda adalah juara dunia tanpa mahkota. Total Footbal tetap melegenda dan menjadi pakem permainan klub-klub kelas dunia yang punya reputasi serangan terbaik seperti Ajax Amsterdam dan Barcelona. Bagaimana prestasi Cruijff di level klub? Prestasinya di tingkat klub amat mentereng. Dia pernah membela Ajax Amsterdam, Feyenoord Rotterdam, dan FC Barcelona. Dan ketiga klub yang diperkuat olehnya tersebut selalu sukses terutama ketika dirinya membela Ajax membawa tim tersebut merengkuh Piala Champions tiga kali berturut-turut.
Oke…selanjutnya di dasawarsa 1980-an. Pada era ini, ada seseorang pesepakbola berpostur tubuh pendek kira-kira tingginya 168 cm dan gempal.Tetapi, dibalik semua itu, terdapat sebuah bakat alam yang amat luar biasa. Siapakah yang dimaksud? Dia adalah sang legendaris Tim Tango, Argentina, Diego Armando Maradona. Maradona adalah simbol kebangkitan Argentina di kancah pesepakbolaan dunia, khususnya di Piala Dunia. Sempat menjadi pecundang di Piala Dunia 1982 yang saat itu diselenggarakan di Spanyol karena dikartu-merahkan oleh wasit pada salah satu pertandingan penyisihan grup di turnamen tersebut, Maradona malah tampil menggila empat tahun kemudian saat Piala Dunia diadakan di Meksiko. Sebagai kapten dan playmaker tim, Maradona bersama Argentina menjelma menjadi sebuah kekuatan yang amat menakutkan. Masih ingatkah Gol Tangan Tuhan? Ya, Maradona dengan akal piciknya tanpa perasaan berdosa mencetak gol dengan tangannya sekaligus menghempaskan The Three Lions, Inggris, di babak perempatfinal. Kemenangan 2-1 menjadi milik Argentina sampai 2 x 45 menit. Dan salah satu gol lagi yang dicetak Maradona benar-benar kelas wahid. Maradona dengan lincah meliuk-liuk melewati 7 pemain Inggris termasuk kiper sebelum menceploskan si kulit bundar ke gawang Inggris yang dijaga oleh Peter Shilton. Lalu, bagaimana dengan yang lain? Adakah pemain besar lain yang lahir pada era ini? Tentu saja ada! Siapa lagi yang dimaksud? Michel Platini dan Dino Zoff. Michel Platini adalah pemain berkebangsaan Perancis yang merajai Eropa lewat Piala Eropa 1984. Jika Italia dan Argentina secara bergantian menguasai dunia ketika menjuarai World Cup edisi 1982 dan 1986, maka Perancis dan Belanda menguasai Benua Biru lewat kampiun Euro 1984 dan 1988. Pada era ini merupakan zaman kebangkitkan sepakbola Perancis. Sebelumnya, Perancis kerapkali diejek oleh publik dunia sebagai negara yang hanya bisa menciptakan turnamen tetapi tidak mampu berbuat banyak dalam turnamen ciptaanya tersebut yaitu Piala Dunia dan Piala Eropa. Perancis bersama kuartet andalannya diantaranya Michel Platini, Jean Pierre Papin, Jean Tigana, dan Alain Giresse mampu membuat mata dunia terbelalak setelah akhirnya mampu menasbihkan salah satu tim terbaik di muka bumi. Di level klub, Platini menularkan kesuksesan yang dia dapat di Les Blues ke I Bianconeri Juventus. Salah satu prestasi terbaiknya bersama Juventus adalah Juara Piala Champions 1985 setelah menumbangkan Liverpool 1-0. Dan hebatnya, gol semata wayang tersebut dicetak olehnya. Pemain berikutnya ialah Dino Zoff. Berbeda dengan beberapa pemain yang telah saya sebutkan sebelumnya yang kebanyakkan seorang Penyerang atau Gelandang, Dino Zoff berposisikan sebagai penjaga gawang. Portiere berkebangsaan Italia ini merupakan aktor penting dalam skema pertahanan gerendel ala Italia yang terkenal dengan nama Catenaccio. Catenaccio adalah mazhab dalam pesepakbolaan Italia kala itu. Seni permainan bertahan total dan mengandalkan counter attack secepat kilat nan mematikan menjadikan Italia sebagai numero uno di Piala Dunia 1982 dimana Spanyol menjadi host kala itu. Tim-tim menyerang seperti Brazil dan Argentina dibuat menangis akibat permainan negatif yang diusung Gli Azzurri ini. Ketika menjuarai Piala Dunia 1982 tersebut, Dino Zoff telah berusia 40 tahun dan menjabat sebagai kapten tim. Dan juga, rekor fantastis yang dibukukan oleh Kiper Juventus ini adalah caps terbanyak sepanjang masa dalam membela Tim Biru Langit ini.
Lanjut ke era 1990-an dimana persaingan sepakbola semakin kompetitif saja. Terdapat peristiwa penting di era ini diantaranya pertama kalinya diperkenalkan Penghargaan Pemain Terbaik di dunia versi FIFA dan bergantinya nama Piala Champions menjadi Liga Champions. Pada penghargaan Pemain Terbaik Dunia versi FIFA ini, pemain berkebangsaan Jerman, Lothar Matthaeus menjadi orang pertama yang meraihnya yaitu pada medio 1991. Pada zaman ini, banyak kejutan bermunculan ketika klub-klub antar beratah seperti Crvena Zvezda atau dikenal dengan nama Red Star Belgrade, Olympique Marseille, dan Borussia Dortmund mampu menjuarai Liga Champions pada dasawarsa ini tepatnya masing-masing pada tahun 1991, 1993, dan 1997. Pada era ini juga terjadi sebuah sejarah besar di Piala Champions dimana nama dan format kompetisi tersebut berubah pada tahun 1992. Piala Champions berubah menjadi nama UEFA Champions League dan pesertanya tidak harus dari juara kompetisi di liga suatu negara yang bersangkutan tetapi juga peringkat runner –up, tiga, dan empat di klasemen akhir pun di beberapa Liga terbaik Eropa seperti Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spanyol mampu mengirimkan wakilnya tersebut. Adapun peristiwa yang menarik pada era ini dimana adanya aturan baru dalam transfer pemain, yaitu aturan Bosman. Inti dari aturan Bosman adalah ketika seorang pemain yang terikat pada klub telah habis masa kontraknya, maka pemain tersebut bebas cabut dan bergabung dengan klub lain. Belakangan aturan ini direvisi dengan berbagai pertimbangan terkait pengembangan pemain muda. Namun esensi utama dari aturan Bosman adalah ketika pemain expired, maka ia free transfer.
Piala Dunia pada dekade ini, merupakan zaman kejayaan bagi Jerman, Brazil, dan Perancis. Mereka mampu mengukuhkan sebagai penguasa FIFA World Cup masing-masing pada tahun 1990 di Italia, 1994 di Amerika Serikat, 1998 di Perancis sendiri. Khusus bagi Jerman, tropi ini merupakan kali pertama bagi mereka dengan nama Jerman, yang sebelumnya Jerman Barat, setelah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur akhir tahun 1989. Sedangkan bagi Perancis, hal ini merupakan gelar pertama mereka di Piala Dunia setelah mempecundangi juara bertahan Brazil dengan skor telak 3-0.
Sedangkan untuk kancah Piala Eropa merupakan milik Denmark, Jerman, dan Perancis. Denmark sungguh mengejutkan karena mampu menjungkalkan prediksi para pengamat bahwa mereka datang hanya sebagai tim penggembira. Denmark sendiri datang dengan status tim pengganti dari Yugoslavia, yang kala itu negeri Balkan tersebut terkena sanksi untuk tampil di turnamen resmi, termasuk Piala Eropa dikarenakan negeri tersebut sedang bergejolak.
Banyak pemain yang sangat bersinar pada era ini. Trio Belanda yang memperkuat AC Milan, Class of 1992 dari Manchester United yang alumninya meliputi Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, dan David Beckham, Roberto Baggio, Luiz Ronaldo, Zinedine Zidane, dan masih banyak lagi. Trio Belanda yaitu Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijjkaard sebenarnya namanya sudah menjulang tinggi ketika mengantarkan Belanda juara Eropa pada tahun 1988. Namun, era 1990an ini menjadi sebuah penegasan kedigdayaan mereka dan melegenda bersama AC Milan yang ketika itu merupakan klub yang paling ditakuti di dunia. Sedangkan Class of 1992 benar-benar rising star yang tersukses di dunia. Bagaimana tidak? Mereka yang ketika itu berumur kurang dari 20 tahun mampu bersaing bersama bintang-bintang yang lebih senior daripada mereka untuk mengangkangi Liga Inggris. Liga Inggris pada masa ini jelas milik Manchester United meskipun sesekali diusik oleh Arsenal, Chelsea, dan Blacburn Rovers. Bersama Sir Alex Ferguson, mereka merajai Liga Inggris hingga kini, dan empat pemain yang saya sebutkan di atas selain David Beckham hingga kini masih tercatat sebagai tulang punggung The Red Devils. Roberto Baggio? Dia melegenda bersama Juventus yang dulu digadang-gadang kemampuan olah bolanya tidak kalah oleh Maradona sekalipun. Pemain Italia pertama yang mampu meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA ini pensiun bersama tim medioker, Brescia.
Dan terakhir kitamembahas sepakbola di awal millennium ke-2 ini. Pada era tahun 200an, sepakbola tidak hanya menjadi olahraga terpopuler di jagat raya ini tetapi lebih dari itu, juga telah mengindustrialisasi. Banyak klub yang hobby menggelontorkan fulusnya demi memboyong pemain berlabel megabintang yang mereka inginkan. Misalnya saja Real Madrid, Chelsea, dan ManchesterCity. Tiga klub yang saya ambil ini merupakan klub yang paling jor-joran menghabiskan uangnya demi membentuk kerangka The Dream Team guna menguasai dunia. Real Madrid mengusung 2 istilah dalam usaha mengumpulkan pemain bintang lima lintas Negara untuk untuk memenuhi dahaga keambisiusannya meraih tropi tiap musimnya. Yang pertama Los Galacticos atau GalacticosI.Galacticos adalah sebutan baru klub ibukota ini selain El Real, Los Blancos, dan Los Merengues. Mempunyai makna tim yang dipenuhi bintang-bintang dari galaksi lain. Berlebihankah?Rasanya tidak! Hmmm,,,masuk akal memang mengingat kala itu Madrid yang dipatroni Fiorentina Perez diperkuat pemain yang memang tulang kartu truf di negaranya masing-masing. Siapa yang tidak kenal Zinedine Zidane superstar asal Perancis, Luis Figo (Portugal), Luiz Ronaldo (Brazil), menyusul kemudian duo St. George Cross Warriors yaitu david Beckham dan Michael Owen. Dalam kurun waktu 5 tahun Madrid mampu menghadirkan mereka sekaligus. Belum lagi produk local seperti Raul Gonzalez, Iker Cassilas, dan Guti Hernandez. Dengan nama-nama besar yang disebutkan tadi, Madrid ketika itu ditasbihkan sebagai klub terkaya di dunia yang sebelumnya selalu dipegang oleh Manchester United. Bagaimana prestasi Madrid di dalam lapangan? Kontras! Prestasi Madrid justru terjun bebas sejak kedatangan Galacticos tadi. Memang, pada awalnya, Madrid mampu menjuarai Liga Champions tahun 2002. Tetapi, itu adalah terakhir kalinya juara antarklub Eropa. Hal itu mungkin dikarenakan Madrid belum mampu menciptakak keidealan sebuah tim walaupun sudah menginventasikan dananya ratusan juta US Dollar untuk memboyong pemain-pemain kelas wahid tadi. Sedangkan, galacticos II atu lebih dikenal dengan nama Neo-Galacticos sedang dibangun lagi oleh Perez sesuai janjinya setelah terpilih menjadi Presiden klub. Hingga saat ini Kaka playmaker jempolan asal Brazil dibajak dari AC Milan, Cristiano Ronaldo sang Portuguese Pretty Boy yang dua musim berturut-turut menjadi Pemain Terbaik Inggris bersama The Red Devils, Karim Benzema, bintang muda masa depan Perancis yang sebelumnya goal getter di Lyon sudah resmi membela Madrid mulai musim ini. Bagaimana dengan dua klub ambisius lain yang kebetulan keduanya berasal dari Britania Raya, Chelsea dan ManchesterCity? Chelsea, sejak kedatangan taipan Yahudi asal Rusia, Roman Abramovic, terinspirasi ingin menjadikan tim asal kotaLondon tersebut sebagai salah satu kekuatan dunia. Terlebih di bawah tangan dingin Jose Mourinho yang mampu membawa The Blues, julukan Chelsea, mencapai kesuksesan sepanjang sejarah klub denagn memenangi 8 tropi selama 4 musim kepelatihannya. Sedangkan, ManchesterCity sendiri bakal menjadi salah satu tim terbaik di dunia di bawah kepemilikkan saudara kaya raya asal Dubai, Sheikh Mansour, dan hingga saat ini telah banyak mendatangkan bintang-bintang papan atas.
Apakah era 2000an hanya kejadian itu sajakah yang patut disorot dimana klub telah berlomba-lomba ingin menjadi yang terbaik dengan cara instan menghamburkan banyak uang? Tentu tidak! Pada era ini, merupakan bagian dari sejarah terbesar bagi bangsa Asia. Betapa tidak, untuk kali pertama Piala Dunia dilaksanakan di Benua terbesar di dunia ini. Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2002. Masuk akal memang jika FIFA, Asosiasi Sepakbola Dunia, memilih Negara ini menjadi host mengingat duo macan Asia ini cukup kuat tradisi sepakbolanya, cukup disegani di kancah Asia, dan perekonomiannya telah mapan. Piala Dunia edisi kali ini sungguh diwarnai banyak kejutan diantaranya tumbangnya sang juara bertahan, Perancis, dalam sejarah Piala Dunia dan tentu saja salah satu penyelenggaranya sekaligus salah satu harapan Asia, Korea Selatan, mampu tembus ke babak semifinal yang sebelumnya mampu mempermalukan Portugal, Italia, dan Spanyol. Walaupun diwarnai banyak kejutan turnamen 4 tahunan ini masih milik Negara yang memang langganan juara Piala Dunia mengingat partai puncak mempertemukan Brazil dan Jerman. Brazil yang mendominasi pertandingan sejak awal menit babak pertama mampu menyudahi perlawanan Tim Panser dua gol tanpa balas. Kedua gol tersebut dicetak oleh Ronaldo. Ronaldo menjadi top skor dalam event ini dan untuk kategori pemain terbaik jatuh kepada kipper sekaligus kapten Die Nationalmannschaft, Olivier Kahn.
Adapun kejutan lain pada turnamen 4 tahunan lainnya di Benua Eropa, yaitu Piala Eropa ketika Yunani secara mengejutkan menjadi kampiun setelah menghempaskan tuan rumah Portugal di partai puncak dengan skor tipis 1-0. Yunani, yang ketika itu, amat tidak diunggulkan mampu membelalakkan mata dunia setelah menjungkalkan beberapa raksasa Eropa dengan pola permainan ultra-defensifnya. Hal ini tentu saja catatan yang membanggakan bagi sepakbola negeri 1000 dewa tersebut hingga detik ini. Pada Piala Eropa 4 tahun berikutnya kembali hadir dengan tuan rumah bersama antara Austria dan Swiss. Pada Piala Eropa kali ini minim kejutan. Mungkin kejutan yang paling sensasional adalah keperkasaan Rusia dan Turki, yang semula tidak diunggulkan, mampu tembus ke babak semifinal. Juara event ini akhirnya diembat oleh Tim Matador Spanyol setelah menyudahi perlawanan Jerman 1-0 lewat gol sematang wayang Fernando Torres. Keberhasilan Spanyol menjuarai turnamen ini pun memang pantas mengingat Spanyol menampilkan permainan menawan nan konsisten jauh sebelum babak penyisihan dimulai yaitu pada babak kualifikasi.
Lalu, siapakah pemain terbaik di awal abad ke-21 ini? Saya sendiri bingung karena sangat banyak talenta terbaik pada era ini terlebih saya sendiri ikut menyaksikan meskipun di layar kaca. Skill yahud, teknik tinggi, dan berprestasi baik individu maupun bersama klub dan timnas rasanya dimiliki oleh Zinedine Zidane, Luiz Figo, Luiz Ronaldo, david Beckham, Ronaldinho, Messi, dan masih banyak lagi.
Namun, nama pertama yang disebutkan menurut saya Best of The Best. Pemain keturunan Arab-Aljazair ini sudah memiliki segalanya apa yang diidamkan insan sepakbola seluruh dunia. Prestasi individu, prestasi di klub bersama Juventus dan Real Madrid, dan prestasi bersama Timnas Perancis sudah dia dapatkan semua satu yang membuat karir Zizou, panggilan Zidane, sedikit cacat mungkin ulahnya akibat terpancing emosinya saat menanduk Marco Materazzi pada Final Piala Dunia 2006 melawan Italia di Berlin, Jerman. Wasit pun tanpa basa-basi menghadiahi kartu merah dan akhirnya Perancis takluk setelah dikalahkan Gli Azzurri lewat drama adu penalty 5-3. Namun, hal tersebut hanyalah noda kecil dalam perjalan emas karir seorang Zidane, sang maestro kulit bundar terbaik sepanjang masa. Tak ada yang dapat memungkirinya. Are you agree?